Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM)
RI menyadari besarnya
tantangan yang akan dihadapi.
Menurut Kepala Badan POM–
Dr. Roy Sparringa, jumlah dan
variasi produk pangan akan
semakin meningkat seiring
perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta adanya
globalisasi. Selain itu gaya
hidup masyarakat juga akan
mempengaruhi pola konsumsi dan
pemilihan produk pangan. Belum
lagi peredaran produk impor yang
kemungkinan juga akan semakin
banyak. Hal tersebut memerlukan
pengamanan pasar yang lebih
gencar.Roy menjelaskan, guna
menghadapi hal tersebut pihaknya
berupaya meningkatkan efektivitas
pengawasan obat dan makanan.
“Kami akan meningkatkan
kualitas pelayanan publik, seperti
menerapkan sistem registrasi dan
penilaian elektronik,
mekanisme notifi kasi
untuk pangan
berisiko rendah,
penyederhanaan
prosedur perizinan
dan resertifi kasi,
serta memperkuat
transparansi
komunikasi untuk
persamaan persepsi.”
Selain itu BPOM
juga berencana
merevitalisasi pos
POM terutama di
wilayah perbatasan,
daerah yang
sulit terjangkau/
pinggiran, wilayah
administratif provinsi
baru, pelabuhan,
dan bandar udara.
Tujuannya adalah
memperkuat
pengawasan.
“Banyak produk
ilegal yang masuk
melalui pelabuhanpelabuhan
‘tikus’
di daerah perbatasan,” kata
Roy. Oleh sebab itu BPOM akan
meningkatkan pengawasan
impor dan ekspor di perbatasan;
kepatuhan terhadap standar/SNI,
pelabelan, bahan baku, dan masa
kedaluwarsa; serta memperkuat
kemampuan laboratorium
karantina.Oleh Fri-09
Selengkapnya artikel ini dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Februari 2015, yang dapat diunduh di www.foodreview.co.id

