
Industri pangan Indonesia akan menghadapi banyak tantangan dalam beberapa waktu ke depan. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, tantangan tersebut meliputi masalah klasik dan baru, “antara lain berkaitan dengan infrastruktur, energi, upah, regulasi, negative campaign, pengaruh perdagangan bebas, produk illegal, dan lainnya.” Dalam kegiatan CEO Food Industry Gathering bertajuk ‘The Future of Food Industry’, Adhi mengingatkan bahwa saat ini ekspor-impor Indonesia masih negatif. “Pertumbuhan defisitnya cukup signifikan”. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk lebih mempersiapkan diri dalam menyambut ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 dan perjanjian perdagangan bebas lainnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dr. Roy Sparringa, mengharapkan agar industri lebih komunikatif dengan lembaga regulasi. “Karena selain menjaga kesehatan masyarakat, Badan POM juga bertugas mengawal daya saing industri pangan Indonesia.” Jadi masukan dari industri pangan akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam penetapan regulasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, R.Benny Wachjudi. “Kita perlu saling sinergi dalam membangun daya saing industri,” ujarnya.
Ekonom Dr. Aviliani yang hadir sebagai pembicara dalam acara yang diselenggarakan oleh GAPMMI dan FOODREVIEW INDONESIA di Hotel Grand Hyatt Jakarta tersebut, menyampaikan bahwa hilirisasi dalam industri wajib dilakukan untuk menghambat inflasi. “Saat ini, kita mengimpor bahan baku dan mengolahnya menjadi produk jadi,” jelasnya. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan terhadap dolar yang tinggi, sedangkan kecepatan pemasukan tidak mampu mengimbanginya. “Oleh sebab itu, ada baiknya kegiatan R&D ditingkatkan suapaya kita dapat mempersiapkan masa depan,” sarannya. Aviliani juga menyoroti perlunya industri pangan mencari pasar baru, selain Eropa dan Amerika Serikat. “Krisis ekonomi di Eropa masih akan berlanjut. Negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh dapat menjadi alternatif pasar baru.”
Namun demikian, walau menyasar pasar baru, industri pangan tetap perlu mengamati perkembangan peraturan yang ada di negara-negara maju. “Sebab, biasanya apa yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa akan menjadi tren yang diikuti oleh negara-negara lainnya,” kata Direktur SEAFAST Center IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi. Regulasi dan standar yang dikembangkan, kemudian dapat menjadi non tariff barrier yang akan menghambat terjadinya perdagangan. Dia menyontohkan kasus penolakan produk perikanan Indonesia, yang umumnya diakibatkan hal sepele, namun menimbulkan kerugian yang sangat besar. Hendry Noer F.

