
Oleh Purwiyatno Hariyadi
Departemen Ilmu dan Teknologi PanganFakultas Teknologi Pertanian dan SEAFAST center, IPB University
Sektor pangan adalah pilar penting dalam ekonomi Indonesia, memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan ketahanan pangan. Namun, pada dekade terakhir, khususnya sejak 2019, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk pandemi COVID-19, konflik dan perang, serta perubahan iklim global. Tantangantantangan ini memengaruhi stabilitas pasokan pangan, kualitas, keamanan, hingga akses masyarakat terhadap pangan.
Semua insan pangan, pemangku kepentingan pangan, perlu mempelajari tantangan ini, serta berupaya memberikan solusi tepat untuk memastikan tidak terganggunya penyediaan pangan yang aman, bergizi, dan berkelanjutan. Mereka diharapkan terus memainkan peran pentingnya dalam mengatasi tantangan di masa depan, berkontribusi dalam mengembangkan dan menjaga keberlanjutan sektor pangan Indonesia.
Sistem pangan
Industri pangan di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ke depan, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi oleh setiap insan pangan dalam pengelolaan dan pengembangan sistem pangan di Indonesia. Tantangan besar tersebut adalah bagaimana Indonesia dapat melaksanakan transformasi sistem pangan. Pertama, tantangan ini perlu dihadapi dengan perlunya setiap pelaku dalam sistem pangan untuk menyadari bahwa mereka tidak bekerja dalam isolasi, melainkan saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain dalam konteks sistem pangan. Konsep “from farm to fork” yang menekankan pentingnya melihat perjalanan pangan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga konsumsi, perlu diperkuat menjadi sistem pangan yang lebih baik. Dalam hal ini, sistem pangan adalah “interconnected web of human activities that links food production, processing, distribution, and consumption with human health and the environment”. Tantangan transformasi sistem pangan ini telah menjadi kesadaran global kolektif, yang dilandasi dengan kenyataan bahwa sistem pangan saat ini ternyata tidak terlalu kokoh (terbukti tidak terlalu tangguh menghadapi pandemi COVID-19, perang, dan lainlain), serta memberikan dampak kesehatan manusia dan lingkungan yang kurang baik. Karena itulah maka diperlukan adanya transformasi sistem pangan, yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan resiliensinya; yaitu kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi, mengatasi, mencegah, meminimalkan atau menghilangkan tekanan pada sistem. Dengan demikian, diharapkan untuk terus mampu berfungsi memberikan ketahanan pangan dan gizi bagi semua. Menjamin kemampuan produksi pangan dalam berbagai skenario situasi, sehingga dapat memastikan ketahanan pangan dan gizi, dengan tetap memberikan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang optimal. Transformasi ini memerlukan investasi dan inovasi untuk memastikan bahwa sistem pangan secara keseluruhan menjadi lebih berkelanjutan dan adil, serta menjamin akses bagi setiap individu untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.
Kontribusi dari semua komponen dalam sistem pangan, termasuk pelaku usaha pangan, pemerintah, akademisi, konsumen, dan media, sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan adil. Kesadaran kolektif ini mewarnai dialog global tentang masa depan pangan dunia, dan mengakui bahwa setiap komponen sistem pangan saling berhubungan dan memengaruhi.
Konferensi Perubahan Iklim Internasional tahun lalu (COP28, Dubai, UAE, 30 Nov - 13 Des 2023), misalnya, mengidentifikasi isu pangan sebagai fokus utama dalam agendanya. Hasilnya, seperti yang dinyatakan dalam dokumen COP28- UAE Consensus, ketahanan pangan menjadi prioritas utama COP. Deklarasi COP28 tentang Pertanian Berkelanjutan, Sistem Pangan Tangguh, dan Aksi Iklim, mendapat dukungan besar dari 159 kepala negara dan pemerintahan, bertujuan untuk menjawab tantangan pangan ke depan dan mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi dampak iklim.
Selain COP28, Forum Pangan Dunia FAO (The 2023 World Food Forum, Roma, 16-20 Oktober 2023) juga mengidentifikasi tantangan yang sama, dan menyatakan bahwa transformasi sistem pertanian pangan dapat dan harus menjadi bagian penting dari solusi iklim global dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ke depan, semua komponen perlu berkontribusi secara lebih signifikan, memperkuat dan meningkatkan resiliensi sistem pangan, dalam rangka memastikan ketahanan pangan dan gizi secara berkelanjutan. Untuk itu, semua komponen didorong untuk terus berinvestasi dan berinovasi dalam membangun sistem pangan, memanfaatkan ipteks, termasuk ilmu dan teknologi pangan. Pada tahun 2024 ini, telah terdapat beberapa tren yang dapat diamati, yang diperkirakan akan memengaruhi proses transformasi sistem pangan, yaitu (i) penguatan gerakan masyarakat untuk keberlanjutan, (ii) penekanan pada persyaratan kehalalan dan keamanan pangan, (iii) meningkatnya minat terhadap pangan fungsional, dan (iv) kemajuan di bidang kecerdasan buatan.
1. Penguatan gerakan masyarakat untuk keberlanjutan.
Gerakan masyarakat untuk keberlanjutan semakin kuat, terutama sejak pandemi COVID-19. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem pangan yang berkelanjutan dan tangguh telah meningkat, mendorong permintaan pangan yang diproduksi secara berkelanjutan. Gerakan ini menuntut industri pangan untuk berkontribusi nyata terhadap keberlanjutan. Pada tahun 2024 ini, industri pangan dituntut untuk lebih memperhatikan dan menjawab tuntutan keberlanjutan. Beberapa industri pangan telah merespons dengan mengembangkan berbagai prakarsa. Salah satunya adalah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya seperti air, energi, dan tanah, yang dapat mengurangi dampak lingkungan.
Selain itu, industri pangan juga perlu lebih serius mengurangi pangan hilang (tercecer) dan terbuang (food loss and waste) dengan meningkatkan efisiensi rantai pasokan dan mendorong konsumen untuk mengurangi limbah makanan mereka. Peningkatan kesejahteraan hewan juga menjadi perhatian, dengan menerapkan praktik peternakan yang lebih bertanggung jawab.
Industri pangan juga perlu lebih terlibat, berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan sosial dengan menciptakan lapangan kerja yang layak dan memberikan upah yang adil bagi pekerjanya. Pengembangan produk-produk yang lebih berkelanjutan, seperti produk dari bahan-bahan lokal, yang lebih ramah lingkungan atau produk yang memiliki kemasan yang lebih mudah didaur ulang, juga menjadi bagian dari prakarsa ini. Investasi dalam penelitian dan pengembangan untuk menemukan cara-cara baru untuk memproduksi makanan dengan lebih berkelanjutan juga menjadi prioritas. Selain itu, kolaborasi dengan komponen sistem pangan lainnya diperlukan untuk mengembangkan solusi keberlanjutan yang komprehensif. Dengan demikian, gerakan masyarakat untuk keberlanjutan dapat diperkuat dan industri pangan dapat berkontribusi lebih banyak terhadap keberlanjutan.
2. Kehalalan dan keamanan sebagai prasyarat pangan
Pandemi COVID-19 telah menjadi titik balik dalam cara kita memandang kesehatan dan pangan. Peristiwa ini telah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi pangan yang aman dan menyehatkan. Dalam konteks ini, ‘aman’ memiliki dua aspek: kehalalan, yang berhubungan dengan rohani, dan keamanan fisiologis.
Seiring dengan peningkatan kesadaran ini, tuntutan konsumen terhadap kehalalan dan keamanan pangan juga meningkat. Sebagai tanggapan umum, beberapa industri pangan telah mengambil langkahlangkah progresif. Mereka telah menerapkan standar dan praktik kehalalan dan keamanan pangan yang lebih ketat, meningkatkan transparansi tentang praktik-praktik ini, dan mengintensifkan pelatihan serta pendidikan karyawan tentang pentingnya kehalalan dan keamanan pangan.
Secara khusus, industri pangan di Indonesia perlu memastikan produknya tersertifikasi halal sebelum batas waktu 17 Oktober 2024. Kewajiban yang mengikat semua produk pangan dan jasa terkait ini, merupakan konsekuensi dari diberlakukannya UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (yang kemudian mengalami perubahan dengan terbitnya UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja). Tidak memenuhi kewajiban ini akan berhadapan dengan sanksi yang tegas, mulai dari penarikan barang dari peredaran hingga denda yang bisa mencapai Rp 2 miliar. Respon pemerintah Indonesia, berupa pemberian kemudahan dalam proses pendaftaran sertifikasi halal dengan meluncurkan program sertifikasi halal, khususnya bagi usaha pangan skala mikro dan kecil (UMK) perlu diintensifkan. Semua komponen sistem pangan perlu bersinergi dalam hal ini, untuk memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan halal dan aman, sejalan dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia.
Selain itu, industri pangan juga melakukan penelitian dan pengembangan untuk memastikan kehalalan dan keamanan pangan, serta berkolaborasi dengan pemasok dan komponen sistem pangan lainnya untuk menjaga kehalalan 28 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XIX / NO. 1 / JANUARI 2024 dan keamanan pangan di sepanjang rantai pasok. Dengan demikian, industri pangan berkontribusi dalam memperkuat gerakan masyarakat untuk keberlanjutan, kehalalan dan keamanan pangan.
3. Meningkatnya minat terhadap pangan fungsional
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, pandemi COVID-19 telah memicu peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi pangan yang dapat memberikan manfaat kesehatan. Inilah yang disebut pangan fungsional, yaitu pangan yang memiliki manfaat kesehatan di luar fungsi dasarnya sebagai penyedia zat gizi. Pangan ini umumnya mengandung senyawa bioaktif, seperti vitamin, mineral, antioksidan, dan fitokimia, yang dapat memberikan manfaat kesehatan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan risiko penyakit kronis, dan meningkatkan kualitas hidup.
Banyak laporan menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap produk-produk pangan fungsional, menjadikan pangan fungsional semakin populer di seluruh dunia. Laporan-laporan itu antara lain adalah:
- “Functional Food Ingredients Market Size, Report 2022-2030” oleh Precedence Research. Laporan ini memperkirakan bahwa pasar pangan fungsional global akan mencapai sekitar USD 167,5 miliar pada tahun 2030 dan diperkirakan akan berkembang pada tingkat pertumbuhan gabungan tahunan (CAGR) sebesar 5,51% dari tahun 2022 hingga 2030.
- “Functional Food Ingredients Market Size & Share Analysis - Growth Trends & Forecasts (2024 - 2029)” oleh Mordor Intelligence. Laporan ini menyatakan bahwa pasar pangan fungsional ini secara global diperkirakan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 7,2% selama periode 2024- 2029
- “Functional Food Market Size, Trends, Analysis 2024-2032”, oleh Expert Market Research. Laporan ini mengemukakan bahwa pasar pangan fungsional global mencapai nilai USD 206,75 miliar pada tahun 2023, dan diperkirakan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 6,7% pada periode tahun 2024-2032, mencapai nilai USD 370,53 miliar pada tahun 2032.
Minat konsumen terhadap pangan fungsional adalah tren yang diperkirakan akan terus berlanjut. Fenomena ini seharusnya dipandang sebagai peluang bagi semua komponen sistem pangan di Indonesia, karena Indonesia memiliki kekayaan bahan dan budaya pangan fungsional yang sangat beragam. Selain itu, minat terhadap pangan fungsional juga merupakan potensi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, menciptakan bisnis yang menguntungkan, serta menciptakan lapangan kerja.
Oleh karena itu, semua komponen pada sistem pangan perlu beradaptasi dengan tren ini, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga untuk sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan berdampak positif bagi kesehatan konsumen. Setiap komponen sistem pangan perlu melihat dan menyadari bahwa tren meningkatnya minat konsumen terhadap pangan fungsional merupakan peluang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, menciptakan bisnis yang menguntungkan, serta menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu, industri pangan global terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan produkproduk pangan fungsional yang inovatif dan efektif. Selain itu, industri pangan global juga bekerja sama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mengembangkan kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan pangan fungsional yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi kesehatan konsumen. Industri pangan global telah merespons tren meningkatnya minat konsumen terhadap pangan fungsional dengan melakukan pengembangan produk-produk pangan fungsional baru, misalnya produk probiotik, produk diperkaya dengan vitamin dan mineral, dan senyawa bioaktif lainnya; termasuk dengan memanfaatkan aneka buahbuahan, sayuran, dan rempahrempah.
Selain itu, industri pangan juga bekerja sama dengan komponen sistem pangan lainnya untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan produk-produk pangan fungsional yang inovatif dan efektif. Upaya ini perlu didukung oleh pemerintah, misalnya dengan memberikan pendanaan dan insentif, sehingga mempercepat capaian pengembangan produk-produk pangan fungsional yang lebih aman, efektif, dan terjangkau. Pemerintah perlu merespon dengan secara proaktif mengembangkan regulasi untuk memastikan bahwa produkproduk pangan fungsional aman untuk dikonsumsi dan efektif dalam memberikan manfaat kesehatan yang diklaim.
4. Kemajuan di bidang kecerdasan buatan
Meningkatnya kesadaran tentang pentingnya sistem pangan telah menimbulkan pemahaman tentang kebutuhan untuk membangun sistem pangan yang efisien, berkelanjutan, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan konsumen. Hal ini memerlukan investasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk pemanfaatan kemajuan di bidang kecerdasan buatan (AI). Dengan kemampuannya memproses data dalam jumlah besar, AI menawarkan peluang transformatif di berbagai bidang, termasuk sistem pangan di masa mendatang. Seiring dengan proses dan analisis industri pangan yang semakin kompleks, peran AI menjadi semakin penting dalam menjawab tantangan sistem pangan.
AI dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sistem pangan di berbagai tahap, mulai dari produksi pertanian hingga distribusi pangan. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam, memprediksi hasil panen dan permintaan pangan, mengotomatiskan proses produksi pertanian, dan meningkatkan efisiensi logistik pangan.
AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan sistem pangan terhadap berbagai gangguan, seperti perubahan iklim, pandemi, dan konflik. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengembangkan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, meningkatkan sistem peringatan dini terhadap penyakit dan hama tanaman, dan mengembangkan sistem mitigasi risiko bencana alam. AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan penjaminan kehalalan dan keamanan pangan. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengembangkan metode baru untuk mendeteksi kontaminasi pangan, meningkatkan efisiensi proses pengolahan pangan, dan mengembangkan sistem ketertelusuran pangan untuk memastikan kehalalan dan keamanan pangan.
AI juga dapat digunakan untuk mengurangi dampak lingkungan dari sistem pangan. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan pestisida dan pupuk kimia untuk menghindari penggunaan berlebihan, meningkatkan efisiensi FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XIX / NO. 1 / JANUARI 2024 33 penggunaan air dan energi, dan mengembangkan metode baru untuk mengolah limbah pangan. Pada prinsipnya, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan keberlanjutan, efektivitas, dan kesehatan sistem pangan. Namun, untuk memanfaatkan potensi tersebut, diperlukan investasi dalam penelitian dan pengembangan AI di bidang pangan. Selain itu, diperlukan kerja sama yang erat antara berbagai pemangku kepentingan dalam sistem pangan, termasuk pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
Untuk membangun sistem pangan berkelanjutan, efektif, dan sehat dengan AI, berbagai aktor sistem pangan di Indonesia perlu berkolaborasi. Pemerintah harus mengembangkan kebijakan yang mendukung AI di bidang pangan. Industri pangan harus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Akademisi harus mempersiapkan generasi muda dengan kurikulum dan program pendidikan yang relevan. Masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang manfaat AI di bidang pangan. Dengan kerja sama dan kolaborasi ini, penerapan AI dalam sistem pangan tidak hanya akan efisien tetapi juga berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat.
Apa yang perlu segera dilakukan?
Berdasarkan pada ulasan di atas, maka setiap insan pangan Indonesia perlu bersikap responsif dan perlu memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh tren-tren yang telah diidentifikasi. Untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan, aman, dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah, misalnya dengan kebijakan yang mendorong penggunaan bahan lokal dan kebijakan melindungi kekayaan pangan lokal. Pemerintah perlu pula mendorong industri pangan dapat berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan produkproduk pangan yang lebih berkelanjutan, aman, dan bermanfaat bagi kesehatan. Indonesia juga perlu melakukan investasi dalam penelitian dan pengembangan, termasuk pemanfaatan kemajuan di bidang kecerdasan buatan (AI). Investasi ini diperlukan untuk mengembangkan solusi-solusi inovatif yang dapat menjawab tantangan sistem pangan.
Hal ini perlu dilakukan dengan kerja sama dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam sistem pangan. Kerja sama dan kolaborasi ini diperlukan untuk memastikan bahwa transformasi sistem pangan dilakukan secara efektif dan berkelanjutan. Harapannya, dengan demikian Indonesia dapat membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan, berbasiskan pada sumber daya lokal, fungsional, aman, dan bermanfaat bagi dan menyehatkan masyarakat.

